artikel

SHALAT KOK CELAKA?

Di dalam Al-Qur’an, kita akan menemukan berbagai macam keutamaan yang diberikan Allah kepada orang-orang yang mendirikan shalat.   Mulai dari diangkat derajatnya, dimuliakan kedudukannya hingga mempeoleh syurga yang penuh dengan kenikmatan.  Mereka akan kekal di dalamnya.

Namun, mungkin mata kita harus singgah pada ayat yang seakan menumbuhkan rasa pesimis dalam diri orang yang mengerjakan shalat. dalam surat Al-Maun 4 dan 5 yang artinya :

4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,

5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,

Jika kita hanya berhenti pada ayat yang pertama (ayat ke-4), tentu kita akan merasa sia-sia melakukan amalan yang memiliki nilai luhur ini.  Begitu sangat luhurnya, sehingga Rasulullah SAW menyampaikan kepada kita bahwa amalan yang pertama akan dihisab oleh Allah SWT di hari kiamat atas diri seorang hamba adalah shalat.  Apabila shalatnya baik, maka baik pula semua amalannya, begitu sebaliknya. Tapi kita harus berlanjut pada ayat selanjutnya (ayat ke-5).  Ada penjelasan disana, bahwa orang yang celaka sekalipun dia mengerjakan shalat adalah orang yang lalai shalatnya.  Lalai berarti mengabaikan atau tidak melakukan.  Berarti pada konteks ini, pemahamannya adalah orang yang shalat tapi tidak shalat.

Shalat adalah ibadah yang dilakukan diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam, dengan rukun dan syarat tertentu.  Itu adalah pengetiannya yang bisa kita dalam buku-buku Pendidikan Agama Islam.  Apakah hanya sebatas itukah shalat?  Tentu tidak. (kayak iklan obat cacing Combantrin).  Shalat adalah rangkaian kegiatan ibadah di dalamnya berisi nilai-nilai penghambaan diri dihadapan Allah dan pengagungan atas Zat Allah Azza Wajalla.  Nah, jika kembali pada ayat di atas, maka kelalaian kita yang membuat kita celaka di hadapan Allah adalah ketika nilai-nilai dalam shalat tidak bisa diterjemahkan dan diaplikasikan dalam kehidupan keseharian kita.

Ketika mengawalai shalat dengan takbiratul ihram, maka dianjurkan untuk melupakan segala hal ihwal keduaniawian.  Lupakan segala urusan dunia, dan hadapkan wajah dan niat semata-mata untuk Allah SWT.  Mengucapkan “Allahu Akbar” (Allah Maha Besar), berarti sudah tidak ada yang Agung selain Allah SWT.  Pangkat, jabata, harta, kedudukan dan lain sebagainya adalah perkara kecil yang tidak artinya apa-apa bila dibangdingkan dengan Allah SWT.  Ruku’ dan sujud merupakan simbol kehinaan manusia di hadapan Allah.  Tidak ada Yang Maha Suci selain Allah, tidak ada yang Maha Tinggi selai Allah.

Nilai-nilai ini yang harus kita aplikasikan dalam aktifitas keseharian kita manakala kita tidak masuk kelompok orang yang shalat tapi celaka.  Bagaimana mungkin kita tidak celaka, ketika dalam aktifitas kita ke-Maha Besar-an Allah hilang, berganti dengan pemujaan terhadap pangkat, jabatan, kedudukan dan harta?  Kehidupan seakan-akan menjadi abadi dengan segala kelebihan dan kemewahan yang dimiliki, sehingga aturan Allah menjadi hilang bahkan sengaja disembunyikan.  Kita akan tetap menjadi orang yang celaka, manakala Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi yang selau terlontar dalam ruku’ dan sujud hilang ketika kita beraktifitas.  Yang ada hanyalah penghambaan terhadap pimpinan hanya karena ingin mendapatkan perhatian, pujian bahkan jabatan.  Selalu mengagung-agungkan harta yang dimiliki, mebanggakan jabatan dan kedudukannya, merasa paling bisa, paling tahu, paling segalanya.  Tidak lagi berbekas ruku’ dan sujudnya, yang ada hanyalah kesombongan.

Makna shalat adalah penghambaan, ketaatan juga pengagungan atas Zat Allah SWT.  Memaknai shalat, tidak hanya pada saat melaksanakannya, tapi juga ketika selesai.  Bila tidak ingin menjadi orang yang celaka, maka nilai-nilai shalat harus berbekas dan menjadi panduan dalam keseharian kita.  Allah Maha Besar, tidak hanya dalam shalat tapi ketika selesai shalat. Begitu juga Maha Suci dan Maha Tinggi nya Allah.  Ketika nilai-nilai shalat ini sudah berbekas, maka kita akan menjadi orang yang rendah diri, baik di hadapan manusia apalagi di hadapan Allah SWT.  Merendahkan diri tidak akan menjadikan hina, bahkan kita menjadi makhluk yang dicintai oleh manusia yang lain, juga yang memiliki manusia.

Segala yang kita miliki, termasuk di dalamnya kemampuan ilmu pengetahuan sekiranya bisa dijadikan sebagai alat untuk mendekatkan diri dihadapan Allah, bukan mejadikan kita sebagai orang-orang yang sombong.  Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang celaka dengan shalat kita.  Amiin

By: Raspa

About MTsN KALABAHI

salah satu sekolah di kota kalabahi kabupaten alor yang terus berbenah dan merubah diri hingga prestasi yang terbaik...

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikut di Twitter

klik suka ya….

%d blogger menyukai ini: